Meninjau Fenomena LGBT di Indonesia dalam Perspektif KUHP

Senin, 30 Mei 2022 – 16:56 WIB

VIVA – Polemik LGBT di Indonesia sedang hangat-hangatnya menjadi perbincangan belakangan ini. LGBT yang merupakan singkatan dari Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender ini berkembang dengan pro kontra. Kelompok pro dengan pendapat bahwasannya LGBT mempunyai hak yang setara di dalam undang-undang, dan juga mempunyai hak yang sama dari segi kemanusiaan.

Sementara dengan kelompok yang kontra berpendapat jika LGBT melanggar norma masyarakat dan perkawinan sejenis bukanlah hal yang bermoral, terlebih lagi di Indonesia yang menganut budaya ketimuran.

Di Indonesia LGBT sudah merebah ke beberapa daerah dan kota-kota besar. Perilaku yang menyimpang ini begitu meresahkan seluruh elemen masyarakat khususnya yang berada di Indonesia. LGBT ini sudah dianggap merusak peradaban manusia dan menyalahi aturan dalam eksistensi manusia.

Bukan hanya itu, LGBT juga dinilai akan berimbas kepada kejahatan atau kriminalitas yang di mana akan berakibat sangat buruk untuk kemajuan Indonesia. Maka dari itu diperlukan hukum yang tegas untuk mengatur hal seperti itu. Mengenai komunitas LGBT tersebut sebenarnya menuai banyak kekurangan di dalam peraturan hukum, contohnya yang diatur dalam KUHP terdapat dalam Pasal 281 hingga pasal 303 KUHP.

Jika melihat pada Pasal 292 KUHP yang berbunyi “Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang belum dewasa dari jenis kelamin yang sama, sedang diketahuinya atau patut harus disangkanya hal belum dewasa itu, dihukum penjara selama-lamanya lima tahun.” 

Maka dari pasal tersebut ditunjukkan kepada korban sesama jenis yang usianya di bawah umur atau masih anak-anak. Jelas ini berbeda dan tidak bisa dijadikan landasan hukum karena berbeda dengan kasus utamanya. Artinya masih terjadi kekosongan hukum di sini yang harus dibenahi oleh pemerintah jika ingin menghilangkan LGBT di Indonesia, dan negara juga harus mengobati para LGBT ini karena LGBT adalah penyakit yang dapat disembuhkan.

Di dalam kitab undang-undang Hukum Pidana Indonesia terdapat satu hal yang menarik bahwasannya peletakan LGBT ini adalah sebuah fakta, sehingga persetubuhan antara sesama jenis yang dilakukan secara suka sama suka antar orang dewasa tidak bisa dimasukan dalam kategori kesusilaan.

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

https://www.viva.co.id/vstory/opini-vstory/1479873-meninjau-fenomena-lgbt-di-indonesia-dalam-perspektif-kuhp

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous post Tinder-Studie: Wer halbnackt posiert, schreckt beim Online-Dating ab
Next post Being gay in PH: Living life to the fullest
Close